Bhineka satu
Image default
Sosial Budaya

Mahasiswa Baru, Kampus, dan Dunia Paham Ekstrimisme

Penulis : Muhammad Rifki Syaiful Rasyid (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Halu Oleo Kendari)

—— Nasi kini sudah menjadi bubur, pepatah dulu sering didengarkan. Agustus 2022 ini kembali menjadi babak baru bagi siswa yang memulai untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, baik negeri ataupun swasta. Suka tidak suka, babak baru ini bakal hadir nuansa baru dalam proses Anda (mahasiswa baru). Mungkin saja, ketika masih menjadi siswa, waktu Anda habis untuk belajar, bermain, dan sebagainya. Masa babak baru ini sepertinya akan sedikit membuat kerepotan dan bahkan membuat Anda melupakan tujuan melanjutkan pendidikan tinggi. Hal diluar dugaan ini bisa saja terjadi bila tak mampu menelaah hal baru menghampiri.

Sebagai alumni mahasiswa baru, tentu pernah melewati beberapa hal utamanya paham ekstrimisme ketika baru masuk ke dalam dunia kampus. Saat menjadi mahasiswa baru, sudah tentu ada beberapa orang mendekati Anda dengan pendekatan akidah. Di posisi inilah akan menjadi awal Anda melupakan tujuan menempuh pendidikan sebelumnya. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa peristiwa yang terjadi di negeri ini. Zakiah Aini seorang mahasiswa simpatisan ISIS menjadi contoh, ketika pada April 2021 melakukan penyerangan ke Mabes Polri. Zakiah masuk ke markas yang sudah mendapat penjagaan sangat ketat dan langsung melakukan penembakan kepada personel polisi yang berjaga.

Dari keterangan yang dihimpun, Zakiah Aini adalah seorang mahasiswa drop out semester 5 karena memilih untuk mengikuti ISIS, hal itu terbukti dari unggahan-unggahannya di Instagram. Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) pada dasarnya merupakan organisasi yang sedang berupaya membangun Negara Islam di wilayah Irak dan Suriah. Dalam menjalanakan misinya, ISIS menggunakan Ideologi yang menarik seseorang untuk melakukan jihad. Anggotanya tentu dari berbagai negara, termasuk negara Indonesia. Oleh karena itulah, kasus penyerangan di Mabes Polri diatas menjadi pembelajaran yang harus diperhatikan mahasiswa baru agar tak ikut terjerumus seperti Zakiah.

Menjadi mahasiswa baru berarti sudah pasti membuat Anda berinteraksi dengan kerabat dan senior di kampus. Akan tetapi, ada beberapa pergaulan yang seolah membuat Anda berkembang tetapi nyatanya menjerumuskan dan menurunkan semangat Anda mencapai tujuan melanjutkan pendidikan tinggi. Hal ini terjadi diakibatkan karena tujuan Anda yang berubah menjadi jihad seperti Zakiah. Ketika baru masuk di dunia pendidikan tinggi, seorang mahasiswa baru akan menjumpai beberapa seniornya yang melakukan dakwah dan menjanjikan surga bila pahamnya diikuti.

Berbicara mengenai tingkat rentan terpapar paham radikalisme (ekstrimisme), pernah diungkap pada tahun 2019, dalam satu acara kuliah umum. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut mahasiswa baru menjadi Entry Point atau dengan kata lainnya rentan terpapar radikalisme. Oleh karena itu, setiap mahasiswa baru mesti benar-benar mampu menganalisa pergaualannya agar tak gampang terjerumus ke paham radikalisme ekstirmisme. Sebab, hemat saya menilai paham yang menjual agama untuk kepentingan kepompok menjadi besar bahayanya bagi mahasiswa baru yang masih panas untuk memperoleh pengetahuan lebih dalam.

Selektif Dalam Belajar Agama

Menuntut ilmu agama untuk mengerjakan amal shalih merupakan tanda kebaikan bagi seseorang untuk menuju surga. Hal itu dipertegas dalam hadist shahih yang diriwayatkan Abu Hurairah Radiyaullahu Anhu, bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda: Barangsiapa menempuh suatu jalan dengan tujuan untuk menuntut ilmu (agama), maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Pemahaman agama yang dimaksud disini adalah ilmu yang bermanfaat yang mewariskan amal shalih, yang semakin dipelajari maka semakin menguatkan iman dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah.

Karena agungnya kedudukan dan keutamaan ilmu yang bermanfaat ini, maka tentu untuk mendapatkannya seorang harus mengikuti adab-adab menuntut ilmu dan syarat-syaratnya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para Ulama. Di antara adab dan syarat yang paling penting adalah mengetahui sumber pengambilan ilmu yang benar dan memahami siapa yang pantas dijadikan sebagai rujukan dan guru dalam menimba ilmu agama.

Selektif dalam memilih tempat belajar agama menjadi satu cara bagi mahasiswa baru untuk membentengi diri agar tak rentan terpapar paham radikalisme ekstrimisme. Dalam dunia kampus, Anda mungkin akan didatangi beberapa kerabat berpenampilan layaknya seorang ustadz (guru agama). Belum lagi, saat ini di dunia pendidikan tinggi sudah begitu banyak mahasiswa meski masih semester awal hingga menenangah sering dipanggil ustadz dan bahkan senang. Tentu saja ini bakal menjadi belenggu apabila tak selektif dalam memilih guru agama.

Dari beberapa literasi yang penulis baca, banyak ulama selalu menekankan pentingnya memilih guru agama. Sebab, ini seiring banyaknya orang baru belajar agama yang demam dipanggil ustadz. Saat ini, tak dipungkiri lagi begitu banyak disekeliling kita seorang ustadz yang akidah dan pemahaman agamanya tidak jauh berbeda dengan kita-kita sudah demam disebut seorang ahli agama. Oleh sebab itu, seorang mahasiswa baru penting kiranya selektif dalam memilih seorang guru agama agar tak mudah terpengaruh masuk ke paham yang menjurus ke paham terorisme.

Selektif Memilih Organisasi

Dalam dunia kampus, seorang mahasiswa baru tentu akan mengenal organisasi. Organisasi inj diyakini akan menambah wawasan dan pengalaman, serta membangun networking. Mungkin sepertinya seorang mahasiswa baru bakal bingung memilih organisasi apa yang mesti dijajal, sebab begitu banyaknya organisasi yang kini menjamur di dunia kampus. Posisi ini juga menjadi satu tantangan bagi seorang mahasiswa untuk memilih organisasi yang positif untuk pengembangan potensi diri.

Ibarat kata seperti masuk ke dalam hutan, kita mesti berhati-hati agar tak diterkam hewan buas. Begitu halnya dengan memilih organisasi, kita mesti selektif agar tak terpapar paham negatif yang menjerumuskan untuk melakukan tindakan makar. Dalam catatan ini, penulis mengingatkan tentang adanya beberapa organisasi yang kini menjual agama untuk kepentingan kelompok. Menarik perhatian seseorang dengan menggunakan agama, seakan mereka menerima wahyu dari tuhan.

Sebagai warga negara Indonesia, maka sudah sepatutnya kita yang saat ini baru menjajal dunia kampus memilih organisasi yang memgajak untuk mencintai tanah air, Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta Tanah Air Bagian Dari Iman). Sebagai rekomendasi kepada mahasiswa baru, saat mengenyam bangku perkuliahan masuklah ke organisasi seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan beberapa organisasi sejalan lainnya yang setia terhadap pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Artikel Lainnya

Ospek Maba Fakultas Fisip & Administrasi Publik di Lingkungan Universitas Yapis Wamena, menunjukkan identitas dan jati diri keaslian

bhineka satu

Dampak Penggunaan Internet Indonesia Terhadap Sosial Budaya Masyarakat

bhineka satu

Sebanyak 11 warisan budaya bersejarah di Sulawesi Tenggara (Sultra), ditetapkan sebagai warisan budaya Nasional

holadmin